Tuesday, March 12, 2013

Sebab dan Akibat Kemacetan?


"Semua kerugian biaya akibat kemacetan besarnya hampir mendekati biaya APBN di Indonesia" (Dosen MPLL, Ofyar Z Tamin)

Mengapa bisa seperti itu?

Sebelum membahas lebih dalam, mari kita lihat terlebih dahulu apa itu kemacetan.
Kemacetan mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Di televisi setiap harinya membahas masalah kemacetan. Dan bagi orang2 yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, mungkin kemacetan sudah menjadi makanan sehari-hari.


Kemacetan lalu lintas terjadi karena jumlah pergerakan transportasi lebih besar daripada ketersediaan infrastruktur transportasi yang menunjang pergerakan tersebut. (Ofyar. Z. Tamin).

Terjadinya kemacetan tentu ada sebab dan akibatnya. Tentu juga ada untung (?) dan ruginya.

Sebelum itu, mari kita lihat hal-hal yang menyebabkan terjadinya kemacetan.
Secara umum, kemacetan terjadi karena adanya pergerakan untuk pemenuhan kebutuhan. Seseorang akan berpindah tempat dan membutuhkan transportasi apabila pemenuhan kebutuhan tersebut tidak ada di tempatnya. Misalkan saja, kita harus berpindah tempat ke sekolah apabila ingin belajar. Tidak mungkin sekolah tersebut kita pindahkan ke rumah kita. Kita harus bergerak apabila ingin ke bandara. Kita harus bergerak apabila ingin pergi ke mall, dan lain-lain. Dalam perjalanan menuju tempat tujuan, tentunya kita akan menggunakan sarana dan prasarana transportasi. Mungkin saja kita ke tempat tujuan tersebut menggunakan mobil, angkot, motor, dan lain2.

Selain itu, kemacetan mungkin juga disebabkan oleh hal-hal yang tidak terduga, seperti adanya kecelakaan, banjir, adanya tanah longsor, adanya perbaikan jalan, dan lain-lain

Secara khusus, kemacetan dapat terjadi karena beberapa hal sebagai berikut:

1.Adanya urbanisasi

Sebagai negara yang sedang berkembang, di Indonesia masih banyak terdapat penduduk yang tinggal di 'desa'. Negara Indonesia berkembang dari negara agraris menuju ke negara industri. Urbanisasi ini tidak bisa dipungkiri dan akan tetap terjadi.

2.   Terbatasnya sistem jaringan jalan
   Di Indonesia, dari total wilayah kota yang ada, seharusnya 10-30% harus didedikasikan untuk jaringan jalan. Namun yang didedikasikan untuk jaringan jalan hanya sekitar 3-4% saja.  Dan lebih parahnya lagi, sudahlah  hanya 3-4% yang didedikasikan untuk jaringan jalan, si 3-4% ini dipakai pula untuk kegiatan nontraffic,n seperti pedagang kaki lima, tempat parkir, dan lain sebagainya. Gimana ga makin macet aja jalannya...

3.    Semakin menjauhnya rata2 pergerakan orang dari tahun ke tahun
  Semakin jauh rata-rata jarak pergerakan kita, maka semakin besar pulalah kontribusi kita terhadap kemacetan. Harga tanah yang semakin mahal di kota mengakibatkan banyak orang yang membeli tanah di pinggiran kota yang cukup jauh dari kota, padahal mungkin orang tersebut bekerja di dalam kota.

Dalam hal ini, ada 3 tipe komuter:
·         Orang yang sangat kaya dan mapan. Ia bekerja di dalam kota. Karena ia sangat kaya, maka ia mampu membeli tanah di dalam kota (rumahnya ada di dalam kota). Sehngga pergerakan yang ia lakukan di dalam kota tidak terlalu jauh.
·         Orang yang tidak begitu kaya dan masih mampu membayar biaya trasnportasi. Ia bekerja di dalam kota, tapi ia tinggal di pinggiran kota yang cukup jauh dari tempat ia bekerja. Sehingga apabila ia ingin pergi bekerja, ia harus melakukan pergerakan yang cukup jauh. Komuter tipe 2 ini sangat berkontribusi terhadap kemacetan.
·         Orang yang tidak kaya, bisa dibilang tidak mampu. Ia bekerja di dalam kota. Namun, untuk biaya trasnportasi saja ia tidak mampu untuk membayar, apalagi membeli tanah, walau yang hanya di pinggiran kota, sehingga ia tinggal di dalam kota; di kolong jembatan, di pinggir jalan, dll. Komuter tipe 3 ini tidak bermasalah bagi transportasi, tapi dapat menyebabkan masalah seperti kriminalitas, pendidikan, kesehatan, kerusuhan, dll.

Jika ada suatu hal yang terjadi karena suatu sebab, maka pasti ada pula akibatnya, baik itu positif maupun negatif.

Adapun dampak yang ditimbulkan oleh kemacetan antara lain:
·         Meningkatnya biaya operasional (VOC)
Konsumsi bahan bakar minyak untuk suatu kendaraan dapat digambarkan dengan kurva kudratic membuka ke atas. Pada kurva kuadratic tersebut terdapat suatu titik optimum keefektifan penggunaan bbm dengan kecepatan, yaitu sekitar 50-60 km/jam. Apabila terjadi kemacetan, maka kecepatan akan rendah, maka jelas penggunaan bbm akan semakin boros. Ditambah lagi apabila menggunakan AC dengan kecepatan rendah, emisi/polusi yang dihasilkan akan semakin besar pula, sehingga dapat menimbulkan penyakit di generasi mendatang. Meningkatnya VOC (biaya operasional kendaraan) ini dirasakan sekarang oleh pengguna kendaraan.

·         Biaya Waktu (VOT)
Mungkin kerugian waktu yang ditimbulkan tidak dapat dihitung secara kuantitatif seperti bbm. Kerugian waktu tergantung oleh masing2 orang. Meningkatnya VOT (value of time) ini dirasakan sekarang oleh pengguna kendaraan.


·         Biaya kerusakan lingkungan
Emisi dan polusi yang ditimbulkan tentu saja dapat mengakibatkan lingkungan menjadi rusak dan memperparah pemanasan global. Biaya akibat kerusakan lingkungan ini mungkin tidak langsung dirasakan sekarang, baik oleh pengguna kendaraan, maupun oleh masyarakat. Mungkin sekitar 0-5 tahun dampak kemacetan ini akan terasa.

·         Biaya kesehatan
Polusi kendaraan yang ditimbulkan tentu saja akan berakibat pada terganggunya kesehatan masyarakat, seperti kematian bayi prematur, ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), peningkatan kadar Pb dalam darah, dll. Biaya kesehatan juga mungkin tidak langsung dirasakan oleh pengguna jalan maupun masyarakat pada pada saat sekarang. Namun dampaknya mungkin akan dirasakan sekitar 5-20 tahun mendatang.

·         Selain itu, akibat kemacetan antara lain dapat mengakibatkan kerusakan bangunan bersejarah (karena polusi kendaraan), penggusuran, gaya hidup pasif, dan lain2.

mmm, ini dari salah satu media yang kubaca, kata seorang pemimpin di kota Bandung, macet ada juga sisi positifnya  "Macet itu salah satu daya tarik kota Bandung"
Wah ga tau kalo yang ini bener apa ga nya...


No comments: