"Semua kerugian biaya akibat
kemacetan besarnya hampir mendekati biaya APBN di Indonesia" (Dosen
MPLL, Ofyar Z Tamin)
Mengapa bisa seperti itu?
Sebelum membahas lebih dalam, mari kita lihat
terlebih dahulu apa itu kemacetan.
Kemacetan mungkin sudah tidak
asing lagi di telinga kita. Di televisi setiap harinya membahas masalah
kemacetan. Dan bagi orang2 yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta,
Bandung, Surabaya, mungkin kemacetan sudah menjadi makanan sehari-hari.
Kemacetan lalu lintas terjadi karena jumlah
pergerakan transportasi lebih besar daripada ketersediaan infrastruktur
transportasi yang menunjang pergerakan tersebut. (Ofyar. Z. Tamin).
Terjadinya kemacetan tentu ada sebab dan akibatnya.
Tentu juga ada untung (?) dan ruginya.
Sebelum itu, mari kita lihat
hal-hal yang menyebabkan terjadinya kemacetan.
Secara umum, kemacetan terjadi
karena adanya pergerakan untuk pemenuhan kebutuhan. Seseorang akan berpindah
tempat dan membutuhkan transportasi apabila pemenuhan kebutuhan tersebut tidak
ada di tempatnya. Misalkan saja, kita harus berpindah tempat ke sekolah apabila
ingin belajar. Tidak mungkin sekolah tersebut kita pindahkan ke rumah kita.
Kita harus bergerak apabila ingin ke bandara. Kita harus bergerak apabila ingin
pergi ke mall, dan lain-lain. Dalam perjalanan menuju tempat tujuan,
tentunya kita akan menggunakan sarana dan prasarana transportasi. Mungkin saja
kita ke tempat tujuan tersebut menggunakan mobil, angkot, motor, dan lain2.
Selain itu, kemacetan mungkin juga disebabkan oleh hal-hal yang tidak terduga, seperti adanya kecelakaan, banjir, adanya tanah longsor, adanya perbaikan jalan, dan lain-lain
Selain itu, kemacetan mungkin juga disebabkan oleh hal-hal yang tidak terduga, seperti adanya kecelakaan, banjir, adanya tanah longsor, adanya perbaikan jalan, dan lain-lain
Secara khusus, kemacetan dapat
terjadi karena beberapa hal sebagai berikut:
1.Adanya
urbanisasi
Sebagai negara yang sedang berkembang, di Indonesia
masih banyak terdapat penduduk yang tinggal di 'desa'. Negara Indonesia
berkembang dari negara agraris menuju ke negara industri. Urbanisasi ini tidak
bisa dipungkiri dan akan tetap terjadi.
2.
Terbatasnya sistem jaringan jalan
Di Indonesia, dari
total wilayah kota yang ada, seharusnya 10-30% harus didedikasikan untuk
jaringan jalan. Namun yang didedikasikan untuk jaringan jalan hanya sekitar
3-4% saja. Dan lebih parahnya lagi, sudahlah hanya 3-4% yang
didedikasikan untuk jaringan jalan, si 3-4% ini dipakai pula untuk
kegiatan nontraffic,n seperti pedagang kaki lima, tempat parkir, dan lain
sebagainya. Gimana ga makin macet aja jalannya...
3.
Semakin menjauhnya rata2 pergerakan orang dari
tahun ke tahun
Semakin jauh
rata-rata jarak pergerakan kita, maka semakin besar pulalah kontribusi kita
terhadap kemacetan. Harga tanah yang semakin mahal di kota mengakibatkan banyak
orang yang membeli tanah di pinggiran kota yang cukup jauh dari kota, padahal
mungkin orang tersebut bekerja di dalam kota.
Dalam hal ini, ada 3 tipe
komuter:
·
Orang yang sangat kaya dan mapan.
Ia bekerja di dalam kota. Karena ia sangat kaya, maka ia mampu membeli tanah di
dalam kota (rumahnya ada di dalam kota). Sehngga pergerakan yang ia lakukan di
dalam kota tidak terlalu jauh.
·
Orang yang tidak begitu kaya dan
masih mampu membayar biaya trasnportasi. Ia bekerja di dalam kota, tapi ia
tinggal di pinggiran kota yang cukup jauh dari tempat ia bekerja. Sehingga
apabila ia ingin pergi bekerja, ia harus melakukan pergerakan yang cukup jauh.
Komuter tipe 2 ini sangat berkontribusi terhadap kemacetan.
·
Orang yang tidak kaya, bisa
dibilang tidak mampu. Ia bekerja di dalam kota. Namun, untuk biaya trasnportasi
saja ia tidak mampu untuk membayar, apalagi membeli tanah, walau yang hanya di
pinggiran kota, sehingga ia tinggal di dalam kota; di kolong jembatan, di
pinggir jalan, dll. Komuter tipe 3 ini tidak bermasalah bagi transportasi, tapi
dapat menyebabkan masalah seperti kriminalitas, pendidikan, kesehatan,
kerusuhan, dll.
Jika ada suatu hal yang terjadi karena suatu sebab,
maka pasti ada pula akibatnya, baik itu positif maupun negatif.
Adapun dampak yang ditimbulkan
oleh kemacetan antara lain:
·
Meningkatnya biaya operasional
(VOC)
Konsumsi
bahan bakar minyak untuk suatu kendaraan dapat digambarkan dengan kurva
kudratic membuka ke atas. Pada kurva kuadratic tersebut terdapat suatu titik
optimum keefektifan penggunaan bbm dengan kecepatan, yaitu sekitar 50-60
km/jam. Apabila terjadi kemacetan, maka kecepatan akan rendah, maka jelas
penggunaan bbm akan semakin boros. Ditambah lagi apabila menggunakan AC dengan
kecepatan rendah, emisi/polusi yang dihasilkan akan semakin besar pula,
sehingga dapat menimbulkan penyakit di generasi mendatang. Meningkatnya VOC (biaya operasional kendaraan) ini dirasakan sekarang oleh pengguna kendaraan.
·
Biaya Waktu (VOT)
Mungkin
kerugian waktu yang ditimbulkan tidak dapat dihitung secara kuantitatif seperti
bbm. Kerugian waktu tergantung oleh masing2 orang. Meningkatnya VOT (value of time) ini dirasakan sekarang oleh pengguna kendaraan.
·
Biaya kerusakan lingkungan
Emisi dan
polusi yang ditimbulkan tentu saja dapat mengakibatkan lingkungan menjadi rusak
dan memperparah pemanasan global. Biaya akibat kerusakan lingkungan ini mungkin tidak langsung dirasakan sekarang, baik oleh pengguna kendaraan, maupun oleh masyarakat. Mungkin sekitar 0-5 tahun dampak kemacetan ini akan terasa.
·
Biaya kesehatan
Polusi
kendaraan yang ditimbulkan tentu saja akan berakibat pada terganggunya
kesehatan masyarakat, seperti kematian bayi prematur, ISPA (infeksi saluran
pernapasan akut), peningkatan kadar Pb dalam darah, dll. Biaya kesehatan juga mungkin tidak langsung dirasakan oleh pengguna jalan maupun masyarakat pada pada saat sekarang. Namun dampaknya mungkin akan dirasakan sekitar 5-20 tahun mendatang.
·
Selain itu, akibat kemacetan
antara lain dapat mengakibatkan kerusakan bangunan bersejarah (karena polusi
kendaraan), penggusuran, gaya hidup pasif, dan lain2.
mmm, ini dari salah satu media yang kubaca, kata
seorang pemimpin di kota Bandung, macet ada juga sisi positifnya "Macet itu salah satu daya tarik kota
Bandung"
Wah ga tau kalo yang ini bener apa ga nya...
No comments:
Post a Comment