Friday, December 23, 2011

Sedikit Cerita dari... Kuliah Lapangan Sipil 2009 Waduk Jatiluhur Dan Bendungan Curug


Sabtu, 12 November 2011, Sipil ITB 2009 melakukan kuliah lapangan ke Waduk Jatiluhur dan Bendungan Curug. Kuliah lapangan ini merupakan bagian dari salah satu mata kuliah semester 5, yaitu Irigasi dan Bangunan Air (Si-3131). “Bagian dari salah satu mata kuliah...”, YAK, dan tentu saja karena merupakan “bagian” maka pasti ada “pertanggungjawaban” dari apa yang kami dapatkan di sana. Tidak lain dan tidak bukan. Laporan Kulap.

Diawali di pagi hari di hari Sabtu (sekitar jam 07.30), kami, sipil 2009 pergi ke waduk Jatiluhur dan Bendungan Curug menggunakan Bus bersama dengan beberapa dosen dari mata kuliah Irigasi dan Bangunan Air. Perjalanan ke waduk Jatiluhur memakan waktu yang tidak lama, hanya sekitar 2 jam. Dannnn, sampailah kami di Waduk Jatiluhur. ^_^


Gerbang Waduk Jatiluhur
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bendungan Ir. H Djuanda atau lebih dikenal dengan sebutan Waduk Jatiluhur ini merupakan bendungan terbesar di Indonesia, membendung aliran Sungai Citarum di Kecamatan Jatiluhur – Kabupaten Purwakarta – Provinsi Jawa Barat, membentuk waduk dengan genangan seluas ± 83 km2 dan keliling waduk 150 km pada elevasi muka air normal +107 m di atas permukaan laut (dpl). Berikut ini adalah lokasi Waduk Jatiluhur di peta


Peta Waduk Jatiluhur




Bendungan Ir. H Djuanda. Bendungan ini di beri nama seperti itu untuk mengenang jasa Ir. H Djuanda (Ir. H. R. Djoeanda Kartawidjaja) yang telah memperjuangkan pembiayaan pembangunan bendungan Jatiluhur ini. Beliau adalah Perdana Menteri RI terakhir dan memimpin kabinet Karya (1957 – 1959). Ir H Djuanda Kartawidjaja merupakan lulusan Technische Hogeschool (Sekolah Tinggi Teknik) – sekarang Institut Teknologi Bandung (ITB). Beliau bersama-sama dengan Ir. Sedijatmo dengan gigih memperjuangkan terwujudnya proyek Jatiluhur di Pemerintah Indonesia dan forum internasional.
Bendungan Ir. H Djuanda mulai dibangun pada tahun 1957 ditandai dengan  peletakkan batu pertama pembangunan oleh Presiden RI pertama Ir. Soekarno. Tanggal 19 September 1965 merupakan kunjungan terakhir Ir. Soekarno ke Bendungan Jatiluhur, yakni sebelas hari sebelum pecahnya peristiwa G 30 S PKI. (tertunda)


Ir. H Djuanda
Fasilitas Pada Waduk Jatiluhur

Di dalam Waduk Jatiluhur, terpasang 6 unit turbin dengan daya terpasang 187 MW dengan produksi tenaga listrik rata-rata 1.000 juta kwh setiap tahun, dikelola oleh PT. PLN (Persero).


Daerah PLTA Waduk Jatiluhur

Selain itu, bendungan Ir. H Djuanda juga memiliki pompa hidrolik. Pompa hidrolik untuk Saluran Tarum Barat berjumlah 17 buah. Pilar pemegang pintu pengatur untuk meneruskan aliran ke daerah Walahar beserta menaranya, berjumlah 8 buah. Sedangkan angka 45 ditunjukkan pada pembangunan pompa-pompa listrik untuk Saluran Tarum Timur, agar lebih efisien dan efektif, dibuat miring 45 derajat.

Bendungan Djuanda memiliki menara pelimpah tipe morning glory. Menara ini merupakan satu-satunya pelimpah di dunia yang berfungsi juga sebagai pembangkit listrik. Menaranya terbuat dari cincin beton yang dicor dari atas ke bawah. Sedangkan bagian pinggir menara menggunakan cincin beton. Di dalam morning glory terdapat unit pembangkit listrik antara lain :
-       6 buah pintu air yang berfungsi mengalirkan air ke turbin berdaya masing-masing 31 Mega Watt.
-       2 buah hollow jet dengan 5% bukaan dan berkapasitas 270 m3 per detik.

Bendungan Ir. H. Djuanda memiliki 2 buah pelimpah, yakni pelimpah utama yang berada di bendungan utama dan pelimpah bantu yang berada di Bendungan Pelana Ubrug. Pelimpah utama memiliki desain yang unik, yang mengacu pada bentuknya dinamakan pelimpah tipe Morning Glory. Pelimpah ini berbentuk menara yang berada di bagian udik bendungan (lihat foto kiri), dengan tinggi 110 m, diameter terluar 90 m, elevasi mercu pada +107 m, dan panjang mercu pelimpah 151,5 m. Memiliki 14 buah jendela dengan kapasitas maksimum 3.000 m3/s pada elevasi banjir maksimum.



Mengapa pelimpahnya disebut morning glory? Morning Glory adalah nama umum untuk species Convolvulaceae, keluarga tanaman semusim, tumbuh di daerah hangat, khususnya di daerah tropis Amerika dan Asia. Di Indonesia bunga jenis ini biasa disebut bunga kecubung atau bunga terompet (foto kiri merupakan salah satu bunga terompet – blue star). Pelimpah jenis ini disebut morning glory karena bentuknya mirip dengan bunga kecubung. Disamping dikenal sebagai pelimpah morning glory, dikenal juga sebagai pelimpah bell-mouth, karena mirip dengan mulut lonceng




 Morning Glory

Peran dan manfaat bendungan Ir. H Djuanda anatar lain sebagai berikut:
a.     Penyediaan air minum, industri, dan pengglontoran terutama untuk kota Jakarta serta daerah lainnya dalam yurisdiksi Perum Otorita Jatiluhur.
b.    Penyediaan air irigasi secara teratur bagi areal persawahan seluas 260.000 Ha di dataran      Utara Jawa Barat dengan 2 kali panen setahun.
c.     Pembangkitan tenaga listrik dengan daya terpasang 6 x 25.000 kW, disalurkan ke Bandung dan Jakarta melalui Saluran Udara Tegangan Tinggi 150 kV. Produksi tenaga listrik rata-rata adalah sebesar 850 juta kWh setahun.
d.    Pengendalian yang setiap tahun selalu melanda daerah Karawang dan daerah subur lainnya.
e.    Pengembangan perikanan darat, di mana dengan adanya waduk, usaha perikanan danau diperkirakan dapat menghasilkan 800 ton ikan setahun, di samping perikanan dalam kurungan terapung dengan hasil 1200 ton setahun.
f.     Pengembangan dan pariwisata, di mana bendungan serta danau seluas 83 km2 dengan keindahan alam sekitarnya akan menjadi daya tarik bagi wisatawan dan penggemar olahraga air.
      Dalam rangka pengembangan pariwisata nasional, pemerintah telah menetapkan Jatiluhur sebagai daerah tujuan wisata. Sebagai konsekuensinya, diperlukan peningkatan fasilitas dan atraksi pariwisata Jatiluhur seperti pengembangan hotel, vila-vila, lapangan golf, marina, ski air serta pusat olahraga dan rekreasi lainnya baik di darat maupun di air.

-----------------------------------------------------------------------------------------

Itu dia cerita seputar Waduk Jatiluhur (dari berbagai sumber). Nah sekarang, inilah kondisi eksisting Waduk Jatiluhur pada Tanggal 12 November 2011 ^^







(bersih yaa...)


(ternyata kotor juga...)

-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Daerah di waduk Jatiluhur cukup panas (apalagi dibandingkan dengan Bandung), dan apalagi kami ke sana tengah hari bolong, makin terasa panasnya. Oleh karena itu para mahasiswa pun serta merta membuka payung mereka (termasuk saya) agar tidak kepanasan. Fiuuuhh
Di sana kami di beri penjelasan oleh Pak Sri Legowo (salah satu dosen Irigasi dan Bangunan Air (kelas1)), diberi penjelasan juga oleh “petugas yang ada di sana (pada saat awal kami baru datang).
Dannn, waktu berkunjung ke Waduk Jatiluhur pun habis. Kami melanjutkan perjalanan ke Bendungan Curug. Melaju ke tempat Bendungan Curug (brmmm, brmmm “naik bus”), setelah beberapa lama, akhirnyaaa, sampailah kami di daerah Bendungan Curug ^_^
------------------------------------------------------------------------------------------


BENDUNGAN CURUG

Bendung Curug terletak di Desa Curug, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Latar belakang dibangunnya bendung Curug ini adalah untuk mengatasi beberapa permasalahan akibat dibangunnya bendungan Jatiluhur. Pembangunan bendungan Jatiluhurmemiliki 3 misi utama yaitu: untuk pemenuhan pengairan, air baku, dan untuk pembangkit tenaga listrik. Pembanguan PLTA mengharuskan tinggi jatuh 80 meter sehingga di hilir bendungan muka air dibuat serendah mungkin. Akibatnya untuk keperluan irigasi, air minum, serta penggelontoran dil dibutuhkan proses pemompaan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dibangunlah bendung Curug. Di bendung Curug air dipompakan untuk daerah pengairan Tarum Barat dan Tarum Timur.


Beberapa fasilitas yang ada di Bendungan Curug adalah sebagai berikut :
·      Pompa Listrik
      Pompa listrik untuk Saluran Tarum Timur ada 6 unit, teridiri dan 4 unit dengan kapasitas @ 17,50 m3/dt dan 2 unit dengan kapasitas @ 10,00 m3/dt. Untuk meninggikan muka air setinggi 4 meter

Pompa listrik


·      Pompa Hidrolik
      Dikenal sebagai pampa hidrolik Soediyatmo dengan jumlah 17 unit dan kapasitas @ 5,50 m3/dt. Pompa ini digunakan untuk meninggikan muka air setinggi 2 meter, dan disalurkan ke Saluran Tarum Barat

Pompa Hidrolik


·      Pintu pembuang
      Untuk membuang air buangan pada pipa Sediatmo

Pintu Pembuang


Peran dan manfaat bendungan Curug antara lain sebagai berikut:
-       Penyediaan air untuk irigasi teknis.
-       Pembangkitan tenaga listrik untuk menghidupkan pompa.
-       Pengendalian banjir yang melanda daerah subur di pantai Utara Jawa Barat dapat dikurangi.

--------------------------------------------------------------------------------------------------

Nah, ini dia kondisi eksisting Bendungan Curug pada Tanggal 12 November 2011 ^^



Sekilas tampak seperti daratan yang ditutupi rumput dan tumbuh-tumbuhan. Jangan salah. Sebenarnya tumbuhan tersebut adalah eceng gondok yang menutupi aliran air. (Kalo ada bola jatuh jangan langsung “nyemplung” ke sana, bahaya). Tampilan bisa menipu.
*Gambar di atas sama dengan gambar sebelumnya. Bandingkan*

Pada saat kami ke sana, eceng gondok tersebut sedang dibersihkan menggunakan alat berat. Banyak sekali eceng gondoknya sehingga menutupi air di sana, dan terlihat seperti daratan. 

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------













-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------






Foto tersebut adalah ikan yang sudah mati yang ada di Bendungan Curug. Di sana banyak sekali ikan-ikan mati yang sudah mengering “terdampar” di daratan sekitar Bendungan Curug. Menurut seseorang, ikan tersebut merupakan ikan yang terdampar di daratan pada saat banjir di sekitar Bendungan Curug. Terdampar, terkena terik matahari selama beberapa lama, sehingga ikan tersebut akhirnya mengering di daratan tersebut.
Ada beberapa teman yang iseng juga melempar ikan tersebut ke teman lainnya, sehingga teman tersebut kaget. Hahaha. Ada2 saja.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah dari Bendungan Curug, kamipun pulang ke kampus kami.
Yak, inilah perjalanan kulap kami untuk mata kuliah Irigasi dan Bangunan Air. Seru, walaupun capek juga.


Oiya, dan yang tidak mungkin ketinggalan saat para mahasiswa kulap  a...da....lah......
Foto-foto!!


tentu saja sebagai kenang-kenangan, dan juga sebagai salah satu tugas untuk LAPORAN KULAP. Yaitu foto bangunan air yang ada di Waduk Jatiluhur dan Bendungan Curug. 


  







Terimakasih  teman2 Sipil 2009, Pak Sri Legowo, Pak Joko Nugroho, petugas yang ada di Waduk Jatiluhur (ato bosnya mungkin), bus yang mengantar kami, sopirnya, dll, pokoknya semuanyaa ^^
Thanx aLL :D



(Video kuliah lapangan sipil 2009, by Wafi Aljamili)

 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber :
*Laporan Kulap Kar’s (dari berbagai sumber di internet :
*Slide KULAP Pak Agung
*Pak Sri Legowo, (saat kuliah lapangan)
*Foto dari Delin, Fristy, Ella, Cella, intrnt, dll 



No comments: